PD bisa diartikan sebagai perasaan layak atas sesuatu. Misalnya: kita layak untuk suatu jabatan dan posisi yang bagus artinya kita akan PD melakukan tugas dan kewajiban dalam jabatan dan posisi tersebut. Atau kita layak untuk mendapatkan jodoh yang cantik dan kaya, maka kita akan PD untuk melakukan pendekatan dan “nembak” orang yang dimaksud atau bahkan langsung melamarnya...
- Selalu mengingkari komitmen (janji, target, kesepakatan, dsb). Kita masing-masing pasti punya komitmen . Kalo kita terlalu sering melanggar dan mengingkari komitmen yang kita buat sendiri atau dengan orang lain, maka akan memunculkan rasa tidak PD tersebut. Makin sering kita melanggar komitmen, maka kita makin tidak PD.
- Terlalu sering gagal. Dalam hidup, kita pernah mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan. Seringnya kita menemui kegagalan kadang meunculkan frustasi, yang akhirnya mempengaruhi rasa PD. Kegagalan tersebut membuat kita sering kemudian menurunkan kuantitas dan kualitas tujuan kita. Jika terlaku sering demikian lengkap sudah kegagalan kita.
- Tidak memiliki kemampuan dan ketrampilan. Seseorang yang tidak memiliki keahlian, merasa tidak PD untuk mengambil kesempatan, padahal barangsiapa yang memiliki keahlian tersebut akan mendapatkan jabatan dan posisi yang bagus, apalagi orang ahli dalam bidang tersebut sangat terbatas jumlahnya.
- Terlalu focus pada resiko alias tidak berani ambil resiko. Segala sesuatu pilihan dalam hidup ini pasti ada resiko. Masalahnya, apakah resiko itu bisa kita atasi atau tidak. Untuk resiko yang besar dan sulit diatasi bisa menjadi momok yang menakutkan bagi seseorang. Sehingga orang takut resiko ini bisa mengurangi rasa PD.
- Kurang Iman. Seseorang yang tidak memiliki iman yang kuat kepada Tuhan, bisa mempengaruhi besar kecil PD seseorang. Makin kuat iman seseorang , ia merasa dekat dan yakin akan kekuatan Tuhan akan melakukan segala sesuatu dengan penuh PD, karena ia yakin Tuhan akan membantu dan bisa memberikan kekuatan yang luar biasa. Yang no. 5 ini sangatlah penting dan wajib dimiliki seseoang.
Ada beberapa orang yang beranggapan, bahwa ia harus bersikap “realistis”, maksud mereka adalah jika ia tidak mampu melakukan pekerjaan A yang jumlahnya 10, maka ia kemudian memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan B yang jumlahnya 8. Ia memutuskan untuk menurunkan target karena tidak PD dengan target sebelumnya, karena pernah gagal ketika memilih pilihan A. Bagaimana sikap orang “realistis” tersebut?
Siikap realistis yang dicontohkan di atas adalah sikap realistis pengecut! Maksudnya, sikap realistis yang diharapkan adalah menyesuaikan kemampuan dengan kebutuhan. Jika contohnya untuk mengerjakan pekerjaan A yang jumlahnya 10, maka sikap realistisnya adalah kita mengumpulkan kemampuan bagaimana agar kita dapat mengerjakan kebutuhan pekerjaan tersebut. Jika kemampuan kita masih kurang, maka kita harus belajar dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan yang kita miliki. Contohlah para atlit yang berlatih dengan kerja keras untuk mencapai kemampuan maksimal mereka untuk menjadi juara terbaik. Jadi, intinya jangan sekali-kali berpikir untuk menurunkan target dan tujuan hidup hanya untuk mengikuti sikap realistis yang salah. Sikap realistis yang salah tersebut bisa saja karena sifat malas belajar dan bekerja keras!
Hendaknya kita mengumpulkan sukses kecil, maksudnya mensukseskan pekerjaan yang kecil-kecil. Sehingga rasa keberhasilan tersebut memupuk rasa PD, untuk bekal melakukan pekerjaan besar dengan sukses besar.
Sadari juga, kalo antara teori dan praktek tidak akan selalu sama. Maka persiapkan antisipasi terhadap “kejutan” kegagalan kecil yang terjadi.
sumber
0 komentar:
Posting Komentar